Matius 13:1-23; Ringkasan Khotbah Pdt. Rahmiati Tanudjaja, KU 1&2; Minggu 12 Januari 2020

Mengapa ada orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus tapi tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia mengikut Kristus? Mengapa ada orang yang mengaku mengikut Yesus tapi “begitu heboh di awal-awal saja,” namun kemudian “sunyi senyap?” Tapi, mengapa ada orang yang mengikut Yesus berkobar-kobar secara terus menerus, bahkan, ketika ada situasi dan pilihan yang sulit? Dari perikop yang kita baca, kita akan mempelajari hal ini.

Untuk memahami perikop ini, maka kita perlu mengetahui orang-orang yang menjadi pendengarnya: ada pemungut cukai, perempuan berdosa (“sampah masyarakat”), orang-orang biasa, bahkan ada orang-orang farisi. Melalui perikop ini, Tuhan Yesus sedang menjelaskan tentang berbagai macam “tanah” kepada mereka, dan tanah ini berkaitan dengan hati manusia.

Tuhan Yesus mengutip perkataan nabi Yesaya (ay. 14-15), yang menjelaskan tentang orang-orang yang tidak mengerti dan tidak memahami. Hal ini bukan menyatakan Allah mencegah orang-orang untuk bertobat, seperti firaun yang “keras hatinya.” Tapi, perikop ini berbicara tentang kondisi hati manusia dan pilihan yang diambil oleh manusia itu sendiri.  Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, maka manusia tidak mau lagi berurusan dengan Tuhan.

 

Tanah pertama: benih yang ditaburkan di tepi jalan.

Ini seperti orang farisi dan ahli taurat. Mereka gemar membaca firman Tuhan, tapi mereka bukan “dikuasai” oleh firman Tuhan. Justru mereka mengekspoitasi firman seturut dengan kemauan mereka sendiri. Misalnya, mereka mengetahui tentang janji “datangnya Mesias.” Akan tetapi, mereka tidak menyukai mesias bukanlah mesias versi Allah. Mereka mempunyai konsep tersendiri tentang mesias: yang membebaskan mereka dari penjajahan Romawi, yang bisa memuaskan kebutuhan mereka. Perhatikan percakapan Tuhan Yesus dengan para murid, khususnya dengan Simon Petru dalam Matius 16:16-17, 22-23. Petrus tidak menyukai Mesias yang Yesus jabarkan. Karena itu, ketika benih ditaburkan, maka “tanah itu tidak menerima.”

 

Tanah kedua: benih yang ditabur di tanah yang berbatu.

Ini adalah orang yang mendengar firman itu dan menerimanya dengan gembira. Ini jenis orang yang berbondong-bondong mengikut Yesus tapi hanya karena “roti” dan “mujizat.” Sesungguhnya mereka bukan mengikut Yesus tapi mereka hanya “mengikut” (mengejar) mujizatnya. Yang mereka mau adalah “kebutuhan mereka terpenuhi,” bukan Tuhan Yesusnya. Begitu banyak orang yang bersorak sorai ketika melihat mujizat yang Yesus lakukan.

 

Tanah ketiga: benih ditaburkan di semak duri.

Contoh dari jenis tanah ini adalah tokoh dalam Lukas 18:18-27, yakni orang muda yang kaya. Ia  adalah orang yang masih berpijak di “dua perahu.” Ia adalah seorang pemimpin yang sukses, kaya, memperhatikan hal-hal rohani dan memiliki moralitas yang baik, tapi ia belum mengambil keputusan untuk mengikut Tuhan.

Karena itu Tuhan Yesus memerintahkannya: “juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, … dan ikutlah Aku.” Tuhan Yesus tidak bermaksud agar agar semua pengikut-Nya menjadi miskin. Tapi, Ia mengingatkan tentang “di mana hartamu berada, di situ hatimu berada.” Tuhan Yesus mau melihat hati orang muda itu: pada Allah atau pada hartanya?  Namun, orang muda itu segera meninggalkan Tuhan Yesus karena hartanya banyak. Artinya, bagi orang muda itu dunia lebih menarik ketimbang Allah. Jadi, persoalannya ada di dalam hatinya, bukan tentang uang. Hatinya tidak pernah kepada Tuhan Yesus.

 

Ketiga tanah di atas bukan tentang anak Tuhan! Mereka bukan dan belum pernah mengikut Tuhan Yesus! Sebelum percaya pada Yesus, saudara termasuk “tanah yang mana?”

 

Jadi, jika seseorang bisa melihat, mengerti dan menjadi tanah yang subur, maka itu hanya karena anugerah Allah semata. Hanya karena karya Roh Kudus yang melahirbarukan kita maka kita bisa menyadari bahwa “ini salah, dan saya harus berbalik kepada Allah.” Dengan demikian, kita bisa memahami karya keselamatan Allah dan kita bisa hidup bagi Allah.

 

Tanah yang keempat: benih di tanah yang subur.

Contoh dari jenis tanah ini adalah Zakheus (Lukas 19:1-10). Ia seorang yang sangat kaya karena ia adalah kepala pemungut cukai (bukan sekedar pegawai pemungut cukai). Untuk mendapat jabatan “kepala” maka ia harus membelinya terlebih dahulu. Dengan demikian, ia adalah orang kaya. Sebelum bertemu dengan Tuhan Yesus, ia tidak peduli dengan Tuhan. Walaupun sudah kaya, ia masih memeras orang lain supaya ia semakin kaya raya.

Tapi tindakan “memanjat pohon” menunjukkan ada sesuatu yang luar biasa yang terjadi. Ia mau melihat Tuhan Yesus. Lalu, ia pun turun dengan cepat (“melorot”) ketika Tuhan Yesus memanggilnya. Ia begitu antusias untuk bertemu dengan Tuhan. Renungkan: kapan terakhir kali Saudara memiliki kerinduan untuk bertemu dengan Tuhan?

Sebagai orang yang sudah lahir baru dan hatinya seperti tanah yang subur maka Zakheus memiliki orientasi hidup yang baru. Ia sadar bahwa dia adalah ciptaan dan Tuhan adalah pencipta. Ia hanyalah pengelola dan semuanya adalah milik Allah. Karena itu, ketika Tuhan memberikan sebuah perintah, ia menaatinya. Kepada orang-orang yang diperasnya, akan mengembalikan empat kali lipat. Itu berarti, uang yang tadinya begitu penting di dalam hidupnya, sekarang Tuhanlah yang menjadi segala-galanya. Tuhanlah yang terutama. Itu menyatakan hati Zakheus tertuju pada Tuhan, bukan pada dunia ini lagi.

 

Seorang yang mengikut Tuhan dan mengizinkan Roh Kudus untuk mengontrol dirinya, maka secara alamiah buah Roh itu ada. Salah satu pengertian tentang buah Roh “kesabaran” adalah kita menyadari bahwa kita seperti tanah liat yang berada di tangan sang Penjunan. Terserah Tuhan mau membentuk kita seperti apa. Jadi, jika ada yang enak dan yang tidak enak terjadi di dalam hidup kita, maka kita tetap menempatkan diri kita sebagai tanah liat.

Saya hidup sesuai dengan identitas saya sebagai anak Tuhan. Saya berpikir, berkata-kata dan berprilaku sebagai anak Tuhan. Itulah arti sebagai orang yang mengikut Kristus, “berbuah.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here