Efesus 1:7-12 ; Ringkasan Khotbah Pdt. Gindo Manogi; Minggu, 03 Februari 2019

Dalam ibadah bulan lalu, saya mengajak kita merenungkan bagian pertama dari surat Efesus ini (Ef. 1:1-6). Efesus 1:1-6. Pada waktu itu, saya mengajak kita semua merenungkan tentang betapa besarnya anugerah Allah bagi kita. Anugerah itu sudah Allah rancang bagi kita sejak dulu hingga yang akan datang; sejak kekal hingga kekal. Rentang waktu yang sangat panjang.

Pada bagian ini (Ef. 1:7-12), maka kita akan merenungkan lebih lanjut anugerah Tuhan yang besar ini bagi kita. Paulus menyebutkan bahwa anugerah Allah yang besar itu ditunjukkan me-lalui pengorbanan Yesus di kayu salib (“di dalam Dia dan oleh darah-Nya” menunjuk pada diri Kristus sendiri). Dia menjadi harga penebusan untuk menebus manusia dari dosa. Dia menebus kita dari dosa dan membawa kita masuk ke dalam kerajaan-Nya. Inilah yang menjadi alasan kita beribadah dan melayani-Nya.

1. Allah Melimpahkan Anugerah-Nya melalui Yesus Kristus
Paulus menyatakan di ayat 7 bagian akhir dan di ayat 8 bagian awal (“…menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita…”) bahwa Allah itu memiliki kasih karunia yang begitu besar (kekayaan kasih karunia-Nya) dan kasih yang besar itu “dilimpahkan” kepada kita. Dicurahkan. Pemberian ini menunjuk pada pemberian diri Allah bagi penyelamatan kita.

Dalam salah satu buku tafsiran dijelaskan bahwa kata “kasih karunia” atau “anugerah” di dalam PB mengkombinasikan dua kata di PL, yaitu kata hen yang berfokus pada pemberian dari yang superior kepada yang inferior; dan kata hesed yang menekankan tentang kesetiaan perjanjian. Hal ini menegaskan bahwa Allah adalah sumber anugerah itu. Dia superior. Kita hanyalah orang-orang yang inferior, yang memohon belas kasihan dari Sang Superior, Sang Empunya anugerah tersebut.

Kata “penebusan” digunakan untuk tindakan menebus seorang tahanan perang atau seorang budak; di mana ia sendiri tidak mampu membebaskan dirinya sendiri; atau tindakan pembe- basan seseorang dari suatu denda atau hukuman yang ia sendiri tidak akan pernah dapat membayarnya. Dari konteks penebusan ini, maka kita bisa melihat bagaimana keadaan manusia: kita seperti tawanan yang berada di bawah hukuman mati atau budak; dan kita tidak dapat membebaskan diri dari hukuman tersebut, atau menebus dengan sejumlah harga sehingga bisa merdeka. Kita tidak berdaya terhadap dosa. Kita membutuhkan Seorang Pribadi yang berasal dari luar penawanan atau perbudakan tersebu. Pribadi itu haruslah seseorang yang Superior. Karena itu, Penebus itu haruslah Pribadi yang tidak berdosa dan berada di bawah kuasa dosa. Itulah Yesus, yang adalah Allah yang datang ke dalam dunia. Dia mengambil rupa manusia dan menggantikan manusia yang berdosa (2Kor. 5:15).

2. Allah Menyingkapkan Rahasia-Nya.
Kata “rahasia” di dalam ayat 9 berarti sesuatu yang selama ini terselubung tapi kini diungkapkan atau disingkapkan. Artinya, manusia bisa mengetahuinya karena Allah menyingkapkannya bagi kita. Ini berkaitan dengan rencana dan karya Allah bagi kita.

A. Jalan Allah tidak sama dengan jalan manusia.
Jalan keselamatan yang Allah kerjakan bagi manusia tidak seperti yang manusia pikirkan. Jika kita memperhatikan perikop secara keseluruhan (ay. 3-14), maka kita menemukan karya Allah Tritunggal (Allah Bapa [ay. 3-6]; Yesus Kristus [7-12]; dan Roh Kudus [13-14]). Allah Bapa memilih dan menetapkan, Tuhan Yesus mengerjakan di kayu salib dan Roh Kudus menjadi jaminan untuk penggenapannya hingga selamanya.

B. Cakupan waktunya: dari kekal hingga kekal.
Ini menyatakan tentang pemeliharaan Allah bagi kita: bahwa orang-orang yang dipilih-Nya akan terpelihara selamanya, dan tidak ada orang yang sanggup untuk merebutnya. Allah itu maha kuasa, dan tidak ada yang melebihi Allah. Karena itu, keselamatan itu kekal.

C. Jangkauan orangnya: untuk segala suku bangsa.
Sesungguhnya, rancangan penyelamatan Allah adalah untuk segala suku bangsa. Bukan untuk suatu bangsa atau etnis tertentu. Kita dijadikan keluarga (Ef. 2:19)

Jika Allah sudah memilih kita, menjamin keselamatan-Nya terpelihara kekal dan anugerah-Nya tidak memandang perbedaan suku-etnis, bagaimana kita merespons anugerah Allah yang besar ini? Beribadah dan melayani-Nya adalah respons yang seharusnya kita berikan kepada-Nya sebagai pujian dan syukur bagi-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here