Pdt. Sylvia Soeherman – Minggu, 11 Maret 2018

Matius 27:27-31

Matius 27:27-31 mencatat satu bagian dari rangkaian kisah salib Tuhan Yesus. Kisah ini tidak hanya dicatat dalam Matius, tetapi juga di dalam Injil Markus (15: 16-20) dan Yoha- nes (19:2-3). Catatan bagian ini mengisahkan dengan detail penghinaan yang dialami oleh Tuhan Yesus. Tidak hanya mengalami penganiayaan secara fisik, Ia juga mengalamipeng- hinaan yang merendahkan-Nya. Prajurit Roma pada dasarnya suka mengolok-olok tawanan yang akan disalibkan. Tuduhan yang disampaikan oleh Pilatus kepada Tuhan Yesus adalah raja orang Yahudi, oleh karena itu para prajurit ini mengolok-olok Tuhan Yesus sebagai raja orang Yahudi. Mereka mengenakan jubah ungu yang menyatakan kebesaran, memberikan buluh di tangan kanan yang menunjukkan kekuasaan, serta berlutut di depan-Nya. Tindakan-tindakan yang diberikan bagi seorang raja, tetapi dengan maksud “mengolok-olokkan Dia” (ay. 29 dan 31).

Ketidakberdayaan Tuhan Yesus dalam catatan ini dapat menimbulkan pertanyaan: sungguhkah Dia adalah Raja? Catatan awal dari Matius menunjukkan bahwa Tuhan Yesus
sungguh adalah Raja. Pasal pertama dari Matius menyatakan Tuhan Yesus sebagai keturunan raja Daud (1:6). Kemudian, pasal dua mengisahkan adanya tanda alam yang menyatakan kelahiran seorang Raja, sebagaimana yang disampaikan oleh para majus dari Timur (2:2) yang datang untuk menyembah Dia. Tuhan Yesus adalah Raja yang sesung-guhnya. Dia tidak membutuhkan pengakuan dari manusia sebagai Raja karena identitas-Nya adalah Raja yang mempunyai kuasa, kekuatan dan otoritas.

Tuhan Yesus dapat menggunakan kekuatan-Nya untuk melepaskan diri-Nya dari peng- aniayaan, penghinaan dan kematian di atas kayu salib (Mat. 26:53). Namun, Dia memilih untuk tidak melakukannya (Mat. 26:54). Dia memilih jalan salib untuk menebus dosa manusia. Paulus meringkaskan kisah ini (Filipi 2:5-11) dengan menyatakan bahwa Tuhan Yesus tidak mempertahankan kesetaraan dengan Allah, yang menyatakan bahwa Dialah Allah; memilih untuk mengosongkan diri-Nya, yang menyatakan kesediaan-Nya untuk melepaskan segala kekuasaan, kekuatan dan otoritas-Nya; dan kemudian taat sampai mati di kayu salib, yang melambangkan kehinaan.

Tuhan Yesus, yang adalah Raja, memilih jalan salib untuk menyatakan kasih-Nya kepada manusia. Dia disalibkan bukan demi orang yang terlihat baik dalam penilaian manusia, atau orang yang mempunyai kekuasaan dan kedudukan dalam masyarakat, tetapi Alkitab dengan jelas mengatakan demi manusia berdosa, yang menjadi karakteristik dari semua manusia. Ini menyatakan bahwa Tuhan Yesus mati bagi setiap “saya”, siapa pun “saya” dan apa pun kondisi “saya”.

Jika demikian, setelah Tuhan Yesus menyatakan karya salib-Nya bagi kita, maka seharus-nyalah kita yang telah menerima karya kasih-Nya menempatkan Dia sebagai Raja yang mempunyai otoritas dalam kehidupan kita. Ini berarti kita bersedia untuk mentaati firman-Nya yang berdaulat dalam kehidupan kita. Paulus menyatakan hal ini setelah dia meringkaskan karya Tuhan Yesus di kayu salib dalam Filipi 2:12. Dia sampaikan kepada jemaat Filipi untuk mengerjakan keselamatan mereka dengan takut dan gentar, yang menyatakan keseriusan. Arti dari “kerjakan keselamatan” bukan melakukan tindakan untuk mendapatkan keselamatan (work for salvation), akan tetapi melakukan tindakan yang bersesuaian dengan keselamatan yang sudah diberikan kepada kita (work out your salvation). Keselamatan adalah anugerah Allah, yang diberikan kepada orang percaya. Namun, seharusnya anugerah itu tidaklah disia-siakan, melainkan dihidupi dengan menjadikan kebenaran Tuhan Yesus berotoritas dalam kehidupan kita sehari-hari. Mohon Tuhan menolong kita menjelang peringatan Jumat Agung dan Paskah untuk dapat hidup menyatakan Tuhan Yesus adalah Raja dalam kehidupan kita sehingga orang lain pun dapat mengenal Dia sebagai Raja. Amin.

SHARE
Previous articleWarta, 11 Maret 2018
Next articleWarta, 18 Maret 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here