Pdt. Daniel Tanusaputra – Minggu, 17 Juni 2018

Tema ini mengajak kita untuk memikirkan secara spesifik: kuat dalam hal apa? Apakah mental, emosional, fisikal atau spiritual, kemampuan, kekayaan, penampilan, karakter, keberhasilannya, atau yang lainnya? Mungkin kata “kuat” dapat kita ubah menjadi kata “sehat,” dan menjadi “Ayah yang sehat, keluarga yang sehat.” Kata “sehat” kita batasi dalam “relasi dengan Tuhan, dengan dirinya sendiri dan dengan sesamanya (istri dan anak-anaknya).” Bagaimana relasi seorang ayah bisa “sehat“ (sehat dengan dirinya, dengan Tuhan dan dengan sesamanya?

Perikop yang kita baca menyatakan, “Ingatlah kepada Taurat yang telah Kuperintahkan kepada Musa, hamba-Ku, di gunung Horeb untuk disampaikan kepada seluruh Israel, yakni ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum” (Mal. 4:4).

1. Mengingat Taurat, berarti Mencintai dan Mentaati Kebenaran (ay. 4)
Kata “ingatlah” menyatakan bukan sekedar mengingat secara kognitif, tapi juga ketaatan dan transformasi. Dengan demikian, seorang hendaklah mengingat, mempelajari, merenungkan dan mengajarkan, dan mencintai kebenaran dan dengan demikian, ia menjadi seorang ayah yang sehat dan yang memiliki relasi dengan kebenaran Firman Tuhan yang mengubah hidupnya. Dengan kata lain, seberapa jauh kebenaran Firman Tuhan itu penting bagi seorang ayah, akan menentukan seberapa jauh ia mengingatnya, menghidupinya, mentaatinya dan mencintainya! Ayat ini mengingatkan kita juga dengan pesan Tuhan dalam Ulangan 6:6-9, Mazmur 1:2, dan 119:1-179.

Saya mengajak setiap ayah untuk menghidupi kebenaran Firman Allah. Sebagai contoh: jika kita memiliki masalah tentang kemarahan: seberapa jauh saya teringat akan kebenaran Firman Tuhan, “Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan. Sebab orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan akan mewarisi negeri” (Maz 37:8-9). Contoh yang lain: bila kita memiliki kebiasaan ceplas-ceplos atau mengritik atau mempergunakan kata-kata yg tidak pantas, kita dingatkan oleh Firman Tuhan: “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya beroleh kasih karunia!”
(Ef. 4:29).

“Berbahagialah seorang yang takut akan Tuhan, yang hidupnya menurut jalan yang ditun-
jukkan-Nya” (Maz 128:1). Siapakah seorang ayah yang kuat? Ia adalah seorang laki-laki yang takut akan Tuhan.

Mari kita renungkan sejenak: bagaimana umat Allah mengabaikan Allah pada zaman kini?
Dengan tidak mengingat peraturan dan perintah-Nya! Budaya dan kebiasaan hidup sehari-hari membuat kita terbuai dan hidup dari nilai-nilai lebih ditentukan oleh ‘medsos, sehingga kita tidak lagi bertanya apa yang benar dan salah, tetapi siapa yang lebih tahu duluan itu lebih penting dari pada apa yang benar atau salah! Tapi pesan Tuhan hari ini mengingatkan kita, “Kembalilah kepada-Ku, maka Aku akan kembali kepadamu, firman Tuhan semesta alam” (3:7). Inilah seruan, peringatan, panggilan dan undangan dari Allah Bapa bagi kita semua, khususnya para ayah!

2) Kembali kepada Tuhan, berarti melangkah untuk datang kepada Allah (3:7)
Tuhan berfirman, “Maka ia akan membuat hati bapa-bapa/orangtua berbalik kepada
anak-anaknya dan hati anak-anak kepada hati bapa-bapanya . . .” (Mal. 4:6a). Kitab Maleakhi mengajarkan kita tentang hati Allah kepada umat-Nya, dan apa yang Allah inginkan dari umatNya. Allah mau agar umat-Nya meninggalkan keraguan akan kasih Allah (1:2-5), dan kembali menghormati Allah lebih dari segala-galanya (1:6-2:9; 2:1016). Jika tadinya mereka mempertanyakan ketidakadilan Allah (2:17-19), Allah ingin mereka kembali kepada Allah. Ini adalah adalah masalah hati, bukan sekedar perilaku, atau bukan sekedar memberikan perpuluhan, ritual dan kebiasaan beribadah (3:10), melainkan hati yang telah dibenarkan sehingga menghasilkan perkataan dan perilaku yang benar!

“Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari Tuhan
yang besar dan dahsyat itu“ (Mal. 4:5). Allah tidak pernah memberikan penghukuman sebe-lum Ia memberikan peringatan kepada umat-Nya. Ia mengutus para nabi, bahkan Putra-Nya sendiri untuk Ia korbankan demi penebusan dosa-dosa kita! Allah masih memberikan kesempatan untuk kembali kepada-Nya. Seorang ayah yang kuat adalah seorang yang tahu dan sadar bahwa hidupnya bukan hanya untuk sesaat, tetapi hidup yang harus dipertanggungjawabkan dan beriorentasi pada kekekalan! Oleh sebab itu, ia harus hidup dalam kekudusan.

Hari Tuhan itu akan datang, oleh sebab itu panggilan untuk mengingat Taurat Tuhan dan
bertobat, berarti: datang kepada Allah dan hormatilah nama-Nya. Jadikan Ia yang terutama dalam hidup Saudara. Dengan sikap yang penuh pertobatan, rendahkanlah hati Saudara dan berdamailah dengan Tuhan, diri sendiri dan istri serta anak-anak. Tidak ada rekonsiliasi tanpa pengampunan. Ia datang untuk memulihkan, sehingga “Mereka akan menjadi milik kesayangan-Ku sendiri, firman Tuhan semesta alam, pada hari yang Kusiapkan. Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia” (3:17).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here