Amsal 3:5-6; Mazmur 37:23; Ringkasan Khotbah Ev. Esther G. Sulistio; Minggu, 30 Desember 2018

Detour adalah tanda lalu lintas (di luar negeri) yang mengharuskan para pengemudi untuk melakukan jalan memutar, karena jalan yang dituju tidak bias dilalui sebab satu dan lain hal. Peristiwa Natal yang dicatat di Injil bagaikan suatu detour bagi Yusuf dan keluarganya (bayangkan sulitnya melakukan perjalanan jauh pada waktu itu):

1. Dari Nazaret ke Betlehem. Lukas 2:2 mencatat ketika Kirenius menjadi wali negeri di Siria (4-5 SM) pemerintah Romawi (Kaisar Agustus) memerintahkan sensus penduduk bagi seluruh warga Yahudi di wilayah kekuasaan Romawi. Sensus ini mengharuskan Yusuf dan Maria yang sedang hamil tua untuk melakukan perjalanan jauh dari Nazaret ke Betlehem (tanah leluhur Yusuf, karena ia berasal dari garis keturunan Raja Daud). Perjalanan ini sekitar 129 km, Yesuspun dilahirkan di Betlehem.

2. Dari Betlehem ke Yerusalem (Pulang Pergi). Waktu Yesus berusia 40 hari, keluarga kecil ini pergi ke Bait Allah di Yeruslem untuk melakukan upacara pentahiran (bagi Maria dan Yesus) sesuai dengan kitab Imamat 12. Perjalanan ini ditempuh sejauh 9,6 km.

3. Dari Betlehem ke Mesir. Kira-kira setahun setelah kelahiran Yesus, para Majus dari Timur datang ke Yerusalem mencari bayi Yesus. Kedatangan para majus ini menyebabkan Raja Herodes Agung mengetahui perihal bayi Yesus. Karena ketakutannya akan Raja tandingan, Raja yang kejam ini mengeluarkan perintah agar semua anak laki-laki di Betlehem yang berusia dua tahun ke bawah harus dibunuh. Yusuf, berdasarkan pesan malaikat dalam mimpinya, membawa pergi keluarganya keluar dari Betlehem menuju ke Mesir kira-kira sejauh 321,8 km. Dalam PL, Mesir sebagai tempat yang aman untuk berlindung pada saat terjadi kelaparan, perselisihan politik, dan kekerasan. Ingat: Abraham (Kej. 12), Yusuf (Kej. 37-50), Yerobeam (1 Raj 11), Yeremia (Yer 42-44).

4. Dari Mesir kembali ke Nazaret. Setelah Herodes Agung mati (4 SM), Yusuf kembali diberi mimpi oleh malaikat (Mat 2: 19-23) agar kembali membawa pulang keluarganya ke Nazaret. Walaupun Yusuf sempat ragu-ragu dengan Raja Arkelaus, namun ia memilih menaati perintah Allah. Yesus kemungkinan baru berusia 2 atau 3 tahun sebab keluarga ini tinggal di Mesir tidak lebih dari dua tahun.

Injil menekankan kronologi detour Yusuf dan keluarganya ini sebagai penggenapan nubuat PL akan Mesias, namun sebenarnya juga menunjukkan fakta betapa beratnya detour yang harus dialami keluarga kecil ini! Hidup manusia adalah juga suatu detour. Di satu sisi, kita berharap hidup kita senantiasa berada di jalan yang aman dan lurus (seperti TOL), namun kenyataannya, kadang kita Aharus berjalan di jalan yang berliku, berputar, berkerikil, turun naik lembah dan jurang:

Detour kadang muncul dengan tiba-tiba dan tidak terduga:
Mat 2: 12-13: malaikat mendatangi secara tiba-tiba dan menggelisahkan Yusuf dalam mimpi agar ia segera membawa keluarganya ke Mesir. Ia bangun dan pergi membawa keluarganya pada malam hari itu juga, meninggalkan rumah, saudara dan sahabat untuk melindungi bayi Yesus dari Herodes Agung yang menginginkan kematian Yesus. Demikian pula ketika ia harus balik ke kampung halaman, Nazaret. Malaikat kembali datang tiba-tiba dan meminta mereka segera kembali ke Nazaret. Tanda detour akan datang tanpa dapat diprediksi dalam hidup kita. Kita harus senantiasa siap kita Allah berkata: “Stop, it’s time for you to detour with Me!”

Detour melatih iman kita terhadap pemeliharaan Allah:
3 tindakan yang bisa kita ambil ketika detour itu datang (ilustrasi: respon kita terhadap tanda yang diberikan dalam aplikasi Waze):

a. Berbalik: Yusuf, sejak awal, bisa saja menolak detour yang mengerikan ini dengan tidak menikahi Maria atau meninggalkan Maria dan bayi Yesus di Betlehem ketika Herodes ingin membunuh bayi Yesus, karena tokh anak tersebut bukan anaknya. Namun ia memilih untuk mantaati Allah! Pada waktu Tuhan mengijinkan detour itu ada di depan mata kita, maka sebagai manusia yang memiliki kehendak bebas, kita bisa memilih untuk mengatakan “ya” terhadap detour tersebut atau menolaknya dan memilih untuk meninggalkan Tuhan.

b. Tidak percaya dan memilih tetap bermacet ria: pada waktu Yusuf, Maria dan Yesus pergi dari Betlehem ke Mesir, mereka melakukan perjalanan ratusan km dengan berjalan kaki atau keledai; melewati gunung, belantara, dan padang gurun dengan seorang baduta. Yusuf dan Maria pasti kerepotan karena membawa seorang baduta. Konteks pada waktu itu, Allah kerap menyatakan diri-Nya melalui hal-hal supranatural, maka sangat manusiawi jika Yusuf dan Maria menggerutu dan mempertanyakan Allah atas detour yang harus mereka alami: “Mengapa Allah tidak mengirim saja malaikat-Nya dengan pedang yang menyala-nyala untuk membunuh Herodes atau melindungi rumah Yusuf dengan bala tentara malaikat untuk mem-protect bayi Yesus dari usaha pembunuhan Herodes?” Mudah saja bagi Allah bukan? “Mengapa Allah membiarkan para majus dari Timur masuk ke wilayah Yerusalem karena mengikuti bintang ajaib dan menyebarkan berita heboh sehingga Herodes Agung kebakaran jenggot?”

c. Detour dengan iman kepada Allah: artinya siap menghadapi realita kehidupan, sekeras apapun dengan suatu keyakinan bahwa Allah itu baik, juga menolak anggapan bahwa hidup manusia semata-mata bergantung pada hukum alam yang berlaku, atau pada nasib/takdir, atau kuasa lain di luar Allah, yang seringkali dianggap bersifat otonom dan absolut. Kita sudah memasuki tahun 2019, mari kita melangkah dgn iman akan pemeliharaan-Nya!

Detour memimpin kita kepada tujuan akhir yang telah Allah siapkan untuk kita:
Injil tidak mencatat detail akhir dari kisah keluarga ini, yang jelas, melalui mereka lahirlah Mesias yang menjadi Juruselamat dunia, inilah tujuan akhir detour yang Allah rancangkan bagi mereka! Dibalik semua detour yang Allah ijinkan kita alami, sadarkah kita, jika di dalam rencana Agung-Nya, Anak Allah telah melakukan detour bagi kita? Detour yang Allah pilih bagi Diri-Nya, karena besar kasih-Nya kepada manusia. Detour itu terjadi ketika Sang Anak Allah itu “melepaskan” segala atribut keIlahian-Nya dan mengambil rupa sebagai manusia yang hina! Tujuan dari detour itu: “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Jika engkau sedang mengalami detour, Natal adalah suatu penghiburan bahwa Ia yang pernah menjadi manusia, mengerti dan memahami segala pergumulan dan penderitaan kita.

Dan ingatlah, bahwa di dalam rencana-Nya yang kekal, Sang Anak merancangkan suatu detour ke dunia kembali pada kedatangan-Nya yang ke-2x kelak, seperti yang telah Ia janjikan kepada para murid: “Sebab Aku pergi ke situ (sorga) untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” (Yohanes 14:14)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here