Efesus 1:1-6; Ringkasan Khotbah Pdt. Gindo Manogi; Minggu, 13 Januari 2019

Berbagai pergumulan bisa menggoyahkan kehidupan: keadaan masa depan yang tidak pasti, pergumulan yang masih terus dihadapi atau informasi-informasi yang melemahkan. Jika demikian, bagaimana kita bisa menapaki tahun 2019?

Yang terutama, kita harus memahami dengan jelas dan benar tentang apa yang telah Allah perbuat bagi kita, dan juga tentang siapa kita di hadapan Allah. Hal inilah yang akan menjadi dasar pijakan kita untuk melangkah di 2019. Jika kita mengandalkan diri kita, maka tentulah kita tidak akan mampu berkemenangan di tahun 2019.

DASAR YANG KOKOH: APA YANG ALLAH PERBUAT?
Dalam ayat 3 Paulus menyebutkan bahwa Allah “…telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga…” Allah berinisiatif dan bertindak secara aktif, sedangkan kita bertindak pasif. Jika Allah tidak memberikannya, maka kita tidak akan pernah menerima dan memilikinya.

Frasa “segala berkat rohani di surga” menunjuk pada karya Allah di dalam pasal 1 dan pasal-pasal lainnya, misalnya pemilihan, pengangkatan sebagai anak, penebusan, termasuk Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita. Uniknya, berkat rohani ini bisa kita nikmati sejak sekarang ini, hingga kepada ke kekekalan. Artinya, segala berkat rohani itu bukan hanya kita nikmati di dalam sorga saja, tapi bisa kita rasakan di bumi, saat ini juga.

Hal itu menunjukkan betapa besarnya anugerah Allah bagi kita. Rentang waktu anugerah yang Allah limpahkan bagi kita adalah masa lampau (pemilihan sebelum dunia dijadikan), pada masa sekarang (ketika kita percaya pada penebusan Yesus Kristus dan selama kita menjalani hidup di dunia), dan pada masa depan (penggenapan seluruh janji Allah di surga kelak). Hal itu menunjukkan secara jelas: (a) bahwa Allah selalu mengasihi kita, bahkan di saat kita belum menyadari apa pun; (b) bahwa anugerah Allah selalu ada di setiap masalah yang kita hadapi; (c) bahwa Allah selalu menyertai kita, bahkan ketika kita tidak menyadarinya. Dan masih banyak lagi yang Allah sudah, sedang dan akan lakukan.

Jika kita memberikan Persembahan Syukur Awal Tahun dalam ibadah hari ini: maka berikanlah dengan penuh syukur dan pujian kepada Allah. Anugerah-Nya teramat besar dalam kehidupan kita. Karena itu, sangat wajar bila kita memberikan ucapan syukur kepada Allah dalam ibadah hari ini.

BAGAIMANA ALLAH MELAKUKANNYA?
Frasa “di dalam Yesus” atau “di dalam Dia” atau “di dalam kasih-Nya” ditulis secara berulang oleh Paulus. Hal itu berarti Allah mengerjakannya oleh Kristus dan melalui Kristus. Di luar Kristus, maka tidak akan pernah bisa mendapatkan “segala berkat rohani di surga.” Juga, jika mengandalkan diri sendiri, maka hal itu tidak akan pernah mungkin.

“Di dalam Kristus” berarti ada kesatuan atau ikatan yang sangat kuat antara orang percaya dengan Kristus. Ini menyatakan keberadaan kita. Status kita. Kita berada di dalam ikatan yang tidak terputuskan dengan Kristus.

APA YANG TELAH ALLAH LAKUKAN?
1. PEMILIHAN.
Pemilihan dilakukan oleh Allah bagi umat-Nya, berdasarkan hati Allah sendiri, bukan berdasarkan kualitas yang ada pada diri manusia. Dengan kata lain, jika pemilihan itu berdasarkan kualitas pada diri kita, maka kita tidak akan memenuhi syarat.

Pemilihan tanpa syarat ini tentu saja ada tujuannya. Tujuannya adalah agar kita menjadi umat yang kudus dan tak bercacat. Hal ini mengingatkan kita bahwa ada tanggung jawab yang besar atas pemilihan ini. Untuk kudus secara sempurna di dunia ini, memang tidak mungkin. Allah akan menguduskan kita secara sempurna nanti. Walau pun begitu, kita tetap dituntut untuk menjalani kehidupan yang kudus. 1 Tesalonika 4:3, “Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu,….” Hal ini perlu kita ingat selalu sehingga: (a) kita tidak bermain-main dengan dosa, dan (b) kita tidak menjadi sombong. Merendahkan orang lain. Itu sebabnya, pemilihan Allah bukan berdasarkan kualitas pada diri kita. Karena itu, ingatlah bahwa hidup dalam kekudusan Tuhan adalah rencana Allah. Hidup dalam keberdosaan bukanlah hidup dalam rencana Allah.

2. PENGANGKATAN MENJADI ANAK ALLAH
Konsep ini mengajar kita tentang gambaran keluarga, yakni relasi Bapa dan anak. Allah menjadi Bapa kita dan kita adalah anak-anak-Nya.

Bapa merupakan figur Pemimpin, Pelindung dan penuh kasih. Tuhan Yesus mengajar tentang doa, yakni untuk minta kepada Bapa, “Bapa kami yang ada di dalam surga….” Hal ini menunjukkan sebuah hubungan yang sangat dekat.

Dalam menjalani tahun 2019, kita diingatkan bahwa kita memiliki Bapa yang akan memimpin perjalanan kita ke depannya. Mungkin kita akan menghadapi masalah-masalah yang besar dan berat tapi kita tetap harus mempercayai bahwa kita memiliki Bapa yang sudah, sedang, dan akan berkarya dalam hidup kita. Berjalanlah terus bersama dengan Bapa yang mengasihi kita senantiasa. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here