Pdt. Benny Solihin – Minggu, 07 Januari 2018
2 Tawarikh 16:1-14

Langkah pertama untuk memulai sesuatu yang baru itu baik, tetapi yang jauh lebih baik adalah bagaimana penyelesaian akhirnya. Apakah berakhir dengan baik, atau berakhir tidak jelas, atau bahkan berakhir dengan buruk? Memulai studi di suatu perguruan tinggi itu membanggakan, tetapi jauh lebih membanggakan ketika kita pada akhirnya diwisuda, karena itu membuktikan bahwa kita dapat menyelesaikan studi kita sampai pada akhirnya. Bisa saja saat kita memulai sesuatu itu berjalan susah, tertatih- tatih, tetapi yang penting apakah kita bisa bertahan untuk membuat suatu akhir yang penuh kemenangan.

Perjalanan hidup kita merupakan suatu perjalanan panjang, yang bisa juga diumpamakan sebuah pertandingan. Kemenangan di babak-babak awal itu bagus, tetapi apakah kita bisa mengakhiri hidup ini dengan baik (finishing well).

Pada tahun-tahun awal pemerintahannya, raja Asa takut akan TUHAN dan hatinya berpaut kepada TUHAN. Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN. Ia menghancurkan patung-patung berhala, menyingkirkan pelacuran bakti dari kerajaannya, dan memerintahkan rakyatnya untuk menyembah hanya kepada TUHAN. TUHAN memberkati dan melindungi Asa dan kerajaan Yehuda. Ekonomi kerajaannya maju, angkatan perangnya kuat, bahkan ketika melawan tentara Etiopia yang jumlahnya jauh lebih besar saja mereka bisa menang karena TUHAN menyertai mereka. Namun, setelah kesuksesan demi kesuksesan ia raih, pujian- pujian ia terima, nama baik telah ia sandang, dan ia telah menjadi public figure number one in his kingdom, ia mulai berubah. Padahal perjalanan hidupnya belum berakhir.

Raja Asa menghadapi masalah baru (ayat 1). Raja Baesa, dibantu Raja Benhadad (dari Aram) menyerang kerajaan Yehuda. Raja Asa mulai lemah imannya. Ia mencari penyelesaian yang berbeda dengan apa yang Tuhan kehendaki dan akhirnya membawa dia pada akhir yang menyedihkan. Belajar dari kegagalan Asa, ada beberapa hal yang harus kita lakukan agar kita bisa mengakhiri hidup kita dengan baik.

1. Jangan Mengandalkan Harta Kekayaan
Apa yang dilakukan raja Asa? (ayat 2) Lalu Asa mengeluarkan emas dan perak dari perbendaharaan rumah TUHAN dan dari perbendaharaan rumah raja dan mengirimnya kepada Benhadad, raja Aram yang diam di Damsyik….” Tujuannya adalah untuk menyuap raja Benhadad. Tidak ada salahnya dengan harta kekayaan karena dibutuhkan dalam hidup ini. Namun, kelirulah bila kita mengandalkan harta kekayaan untuk menyelamatkan dan menyelesaikan persoalan hidup kita. (Lihat Amsal 11:28a,” Siapa memercayakan diri kepada kekayaannya akan jatuh…” dan Matius 6:24)

2. Jangan Mengandalkan Manusia
Ketika raja Asa mengalami masalah yang pertama ia ingat adalah harta kekayaan yang ada di tangannya. Ia sangat tahu money has a great power. Dengan harta itu, ia bisa mengubah hati, pikiran, pendapat orang. Ia ingin membeli hati raja Benhadad untuk berpihak kepada dia agar ia selamat. Di sini seolah-olah mati hidupnya bergantung kepada manusia yang bernama Benhadad. Asa lupa bahwa mati hidupnya seseorang hanya ditentukan oleh TUHAN. Dan TUHAN itulah yang telah menyelamatkan dia dari penyerangan raja Etiopia yang memiliki sejuta tentara. Betapa riskannya hidup yang bersandar kepada manusia. Mengapa? Pertama, kuasanya terbatas. Kedua, kesetiaannya juga terbatas. Ketiga, andai kuasanya tidak terbatas dan kesetiaannya juga tidak terbatas, umurnya terbatas. Hari itu, ia membeli hati seorang raja yang bernama Bendahad dengan hartanya, apakah ia bisa menjamin bahwa hati Benhadad tidak bisa dibeli oleh musuhnya atau orang lain yang membayar lebih tinggi?

3. Andalkan Tuhan
Setelah strategi yang dipikirkan oleh raja Asa berjalan dengan baik dan hasilnya sesuai dengan apa yang diharapkan, tenanglah hati sang raja. Namun yang ia tidak duga, di ayat 7a, “Pada waktu itu datanglah Hanani, pelihat itu, kepada Asa, raja Yehuda, katanya kepadanya: ‘Karena engkau bersandar kepada raja Aram dan tidak bersandar kepada TUHAN Allahmu, oleh karena itu terluputlah tentara raja Aram dari tanganmu.” Apa yang dikira kebaikan oleh raja Asa, sebenarnya adalah keburukan; apa yang dipikirkan sebagai keuntungan, sebenarnya adalah kerugian. Finishing well itu selalu berkaitan dengan Allah bukan dengan manusia. Aneh, kalau hidup dan nasib kita digantungkan pada seorang manusia.

4. Perhatikan Teguran Tuhan
Jelas apa yang dikatakan oleh Hanani, hamba Allah itu, adalah suatu teguran yang datang dari Tuhan yang seharusnya membuat raja Asa takut, sadar, dan bertobat. Daud pernah juga melupakan Tuhan dan berbuat dosa yang memalukan. Namun, ketika Tuhan menegurnya melalui hamba-Nya, Natan, Daud tertempelak. Ia sadar dan mengaku: “Aku sudah berdosa kepada Tuhan.” Namun, berbeda dengan reaksi raja Asa. Ay. 10 mengatakan, “Maka sakit hatilah Asa karena perkataan pelihat itu, sehingga ia memasukkannya ke dalam penjara,sebab memang ia sangat marah terhadap dia karena perkara itu. Pada waktu itu Asa menganiaya juga beberapa orang dari rakyat.” Bukan hanya dia merasa tidak bersalah, ia malah marah dan memasukkan Hanani ke dalam penjara seolah-olah Hanani memfitnah dia. Raja Asa menganggap sepi teguran Tuhan.

5. Perhatikan Peringatan Tuhan
Sekarang bentuk teguran meningkat menjadi peringatan. Tuhan mengizinkan Asa menderita sakit pada kakinya. Sakit yang tampaknya sepele tetapi bukannya sembuh, melainkan semakin parah (ay. 12). Hal ini seharusnya cukup membuat raja Asa berpikir, “Mengapa semua ini terjadi?” Tidak semua penyakit merupakan peringatan dari Tuhan, tetapi Tuhan bisa memakai penyakit sebagai peringatan atau hukuman atas dosa-dosa kita. Semua peringatan Tuhan merupakan tanda kasih sayang Tuhan. Mari kita menjalani tahun 2018 dengan bersandar pada Tuhan. Kiranya Tuhan memberkati kita sekalian.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here