Efesus 4:17-32 ; Ringkasan Khotbah Pdt. Gindo Manogi; Minggu, 04 Agustus 2019

Status sebagai orang Kristen bukan sekedar identitas agama di KTP. Namun, status ini merupakan panggilan Allah berdasarkan rencana kekal-Nya. Karena itu, Tuhan menghendaki agar setiap orang Kristen menghidupi status ini seturut dengan tujuan-Nya, agar “hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.” (Kata “berpadanan” menunjukkan bahwa ada kriteria atau standar hidup yang harus dijalani oleh orang percaya, dan kriteria/standarnya adalah tujuan panggilan itu.)

Tujuan dari panggilan itu adalah agar setiap orang Kristen “bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala” (ayat 15). “Dalam segala hal” mengacu pada seluruh aspek diri kita, yakni kognitif (cara berpikir dan konsep kita tentang Tuhan), karakter, perilaku, perkataan dan pelayanan yang menyerupai Kristus.

Untuk itu, Paulus memberikan nasehat kepada kita tentang cara pertumbuhan tersebut, di dalam ayat 17-32. Dalam ayat 17, Paulus menegaskan agar setiap orang percaya “jangan hidup lagi…” (yang menyatakan bahwa mereka dahulu melakukannya) karena “Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus” (ayat 20). Hal ini menyatakan bahwa kehidupan mereka dahulu tidak cocok lagi dengan status mereka yang baru di dalam Kristus. Mereka harus “menanggalkan manusia lama” (ayat 22) dan “mengenakan manusia baru” (ayat 24). Kata “mengenakan” digunakan dalam konteks pakaian, yakni mengenakan pakaian.

Dari prinsip “menanggalkan” dan “mengenakan” ini, ada dua prinsip penting yang Paulus ajarkan, yaitu:

a. Ini bukan sekedar “perubahan lahiriah” tapi perubahan yang terjadi di dalam” (inside out).
Itu sebabnya, Paulus melanjutkan di dalam ayat 23 “dibaharui di dalam roh dan pikiranmu.” Hal ini menyatakan bahwa perubahan itu terjadi “di dalam diri kita” (bdk. Markus 7:20-23). Ini merupakan karya Allah yang mengubahkan diri kita dan ketundukan kita pada proses pendewasaan yang Tuhan kerjakan.

b. Ini bukan sekedar “tidak melakukan yang buruk” tapi “melakukan seturut dengan apa yang Tuhan mau.” Artinya, ada orang yang tidak melakukan hal yang buruk, tapi juga tidak melakukan apa yang semestinya dilakukan. Sebagai contoh: ada orang yang tidak berselingkuh, tapi juga tidak melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang suami atau istri, sebagaimana yang diperintahkan Tuhan. Yang Tuhan kehendaki adalah bukan hanya tidak berselingkuh, tapi juga menjalankan peran dan tanggung jawabnya seperti yang Tuhan tetapkan.

Paulus memberikan beberapa contoh praktis tentang “menanggalkan manusia lama” dan “mengenakan manusia baru.”
1. Buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota (ayat 25).

2. Jikalau marah, janganlah berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu, dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis (ayat 26-27).

3. Jangan mencuri lagi, tetapi hendaknya bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik, supaya dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan (ay. 28).

4. Jangan ada perkataan kotor yang diucapkan, tetapi perkatakanlah perkataan yang baik untuk membangun, sehingga orang yang mendengarnya, beroleh kasih karunia (ayat 29).

5. Hendaklah segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah dibuang, dan hendaklah bersikap ramah terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu (ayat 31-32)

Tuhan Yesus, yang telah menyelamatkan kita, senantiasa menyertai kita semua dalam proses pertumbuhan kedewasaan ini. Karena itu, bersandarlah terus pada Allah. Tuhan memberkati.

SHARE
Previous articleMarah: Yes! Dosa: No!
Next articlePerhatikanlah Hidupmu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here