Yohanes 6 ; Ringkasan Khotbah Ev. Esther G. Sulistio ; Minggu, 10 Maret 2019

AKULAH ROTI HIDUP
Yohanes hanya mencatat 7 mujizat Yesus dalam bukunya dengan tujuan agar para pembacanya melihat siapa Yesus, bahwa Dia adalah Anak Allah. Yohanes juga mencatat bahwa Yesus kerap melakukan mujizat yang nampaknya ‘bersifat jasmani’ dengan tujuan mengajarkan se- suatu yang ‘bersifat rohani’ tentang diri-Nya. Dalam mujizat 5 roti dan 2 ikan (Yoh 6:1-15), Yesus bertujuan untuk menyatakan diri bahwa Ia adalah Roti Hidup:

  1. Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai Roti Hidup, agar siapa yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa secara rohani dan memperoleh hidup kekal. Roti merupakan makanan pokok /utama dalam tradisi dan budaya Yahudi zaman Tuhan Yesus, jadi tidak mengherankan kalau Yesus menggunakan ilustrasi roti. Roti Manna bagi bangsa Israel yang turun dari sorga, bersifat mengenyangkan sementara, namun Roti Hidup ini bersifat kekal.
  2. Yesus mengajar bahwa tujuan kedatangan-Nya dengan pernyataan-Nya ini adalah untuk memberikan jaminan akan kehidupan kekal tersebut (ayat 51). Tujuan ini akan dicapai me-lalui kematian penebusan-Nya di mana Yesus akan memberikan nyawa-Nya. Perjamuan Kudus merefleksikan penyataan Yesus ini, ketika kita makan roti, kita mengingat karya Kristus di atas kayu salib.

Pada waktu Yesus menyatakan penyataan ini, bagaimana respon para pendengar-Nya? Siapa sajakah mereka? Lalu bagaimana dengan kita sebagai murid Kristus? Bagaimana respon kita?

1. Murid-murid yang memilih untuk meninggalkan Yesus (ayat 66-71)
Sebagian dari mereka adalah pendengar khotbah Yesus di Atas Bukit dan saksi mata mujizat 5 roti 2 ikan (ayat 1-15). Mereka juga terobsesi dengan Yesus dan ingin Yesus menjadi Raja atas mereka (ayat 15). Kalau Yesus jadi Raja, maka mereka akan makmur, selalu kenyang, lepas dari penderitaan dan kemiskinan karena penjajahan Romawi. Mereka mengikuti Yesus sampai ke Kapernaum. Apakah mereka berusaha mencari Yesus karena lapar akan kebenaran? Tidak! Mereka mengikuti Yesus supaya perut mereka kenyang (ayat 26).

Mereka memang hurufiah miskin dan lapar. Namun kondisi mereka sebenarnya lebih kasihan daripada orang-orang yang hurufiah kelaparan. Mengapa? Karena mata rohani mereka pun buta! Mereka lapar secara rohani tapi mereka tidak menyadarinya. Ada diantara mereka disebut “murid-murid” oleh Yohanes (ayat 60-66). Mereka bukan simpatisan atau sekedar penggemar, namun mereka mengundurkan diri menjadi murid Yesus. Mengapa? Karena mereka menuntut Yesus menjadi seperti Musa yang akan memenuhi semua kebutuhan perut mereka. Selain itu, karena penjelasan Yesus bahwa diri-Nya adalah ‘Roti Hidup,’ itu ‘terlalu keras’ dan telah menyinggung atau menggoncangkan iman mereka (v.60).

2. Respon ke-12 murid Yesus (ayat 67-71)
Ketika Yesus menantang: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” (v.67), Petrus, salah seorang dari murid Yesus kemudian menjawab seperti mewakili para murid yang lain: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah” (ayat 68-9). Selain Yudas Iskariot, ke-11 murid Yesus semakin memahai akan Yesus yang adalah Roti Hidup. Mereka menjadi murid-murid yang otentik.

Roti hanya mampu memelihara hidup kita dengan cara yang sangat terbatas. Roti tidak dapat meluputkan kita dari kebinasaan, tetapi tubuh Kristus dapat. Roti hanya memberikan kekuatan yang sangat terbatas, tetapi tubuh Kristus yang terpecah memulihkan relasi kita dengan Allah. Bagaimana dengan kita yang juga disebut sebagai murid-murid Yesus? Apakah kita hanya sekedar ‘follower’ atau murid yang otentik? Murid yang otentik adalah murid yang mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat dalam hidup kita. Kita akan selalu rindu untuk semakin serupa dengan-Nya. Ini adalah tujuan hidup kita, bukan sekedar menjadikan Dia ‘Tuhan’ seperti yang kita mau dan yang akan selalu menuruti keinginan dan memenuhi kebutuhan kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here