Ringkasan Khotbah, Pdt. Gindo Manogi – Minggu, 01 Juli 2018

Tuhan Yesus menuliskan surat ini kepada jemaat di Efesus (dan juga 6 jemaat lainnya, dalam Wahyu 2-3). Surat ini merupakan isi hati Yesus untuk jemaat-jemaat yang dikasihi-Nya. Yesus telah mati bagi mereka dan Yesus ingin menggembalakan mereka.

Tuhan Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai “yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya” dan “(yang) berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu.” Kata “memegang” menunjukkan bahwa Dia adalah Pribadi yang berotoritas dan kata “berjalan” menunjukkan kehadiran-Nya di tengah-tengah jemaat. Dengan menunjuk kepada dua “nama” ini, maka Tuhan Yesus sebagai Pribadi yang berotoritas dan yang hadir di tengah-tengah jemaat, maka Ia mengirimkan surat ini. Ia tahu apa yang terjadi di sana dan Ia memiliki wewenang untuk mengarahkan gereja-Nya.

PUJIAN
Jika kita memperhatikan ayat 2, 3 dan 6, maka kita bisa melihat aktivitas mereka yang sangat luar biasa. Dari ayat-ayat ini, setidaknya ada 3 hal yang menjadi pujian: (1) mereka adalah gereja yang aktif melakukan banyak pelayanan, bahkan mereka mengerjakannya sampai lelah; (2) mereka memiliki pengajaran doktrin yang sangat kuat. Bahkan mereka bersikap tegas terhadap pengajar-pengajar palsu yang mencoba untuk menyusup ke tengah-tengah mereka; dan (3) mereka bertekun menghadapi penganiayaan. Berdasarkan ketiga hal di atas, maka kita bisa belajar banyak dari jemaat ini.

TEGURAN
Akan tetapi, di tengah semua hal baik yang sudah mereka lakukan, Tuhan Yesus memberikan sebuah penilaian: ada yang hilang di dalam diri mereka (ay. 4-5). Mereka kehilangan “kasih yang semula.”

Allah berulang kali mengingatkan umat-Nya untuk selalu mengasihi Allah. Tuhan Yesus menyatakan, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Mat. 22:37). Tuhan ingin umat-Nya mengasihi-Nya lebih dari apa pun dan lebih dari siapa pun.

Di bagian ini, Tuhan menekankan tentang kasih yang semula, yakni kasih yang pertama kali kita alami ketika kita mengenal dan mengalami Kristus. Pada waktu itu, kita menyadari betapa besarnya kasih Allah bagi kita dan betapa besarnya dosa kita kepada Allah. Allah mau turun ke dalam dunia dan menyelamatkan kita. Kasih itu yang mendorong kita untuk mengasihi Tuhan, rindu untuk bersekutu dengan Tuhan dan rindu untuk menyenangkan hati Tuhan. Kasih itu mendorong kita untuk melayani Tuhan. Kasih itu yang memuaskan jiwa kita dan membuat kita yakin bahwa Allah saja cukup dan bahwa Allah saja tujuan hidup kita.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, kasih kita mulai memudar. Dulu kita berkata “Tuhan
itu cukup bagiku…aku tidak mau yang lain…” tapi sekarang kita menjadi sulit untuk percaya pada hal ini. Sebaliknya, kita menjadi orang Kristen yang melakukan “tawar menawar dengan Tuhan.” atau, ada yang lebih parah lagi “mengancam Tuhan.” Kasih kita kepada Tuhan menjadi perasaan kasih yang bersyarat. Tuhan menginginkan hati kita. Tuhan menginginkan agar kita mengasihi-Nya dengan penuh kesungguhan dan ketulusan. Hati yang penuh kasih. Bahkan, kasih yang mula-mula.

Bahkan, pernyataan di ayat 5 sangat mengejutkan kita semua bahwa lenyapnya kasih mu-
la-mula itu dianggap sebagai sebuah kejatuhan dan kegagalan yang sangat besar di mata Allah. “Ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan.” Jemaat di Efesus tidak melakukan dosa/kejahatan yang besar, misalnya penyembahan berhala, kesalahan doktrin, maupun tindakan amoral. Tapi, kehilangan kasih yang semula sudah merupakan sebuah kesalahan yang sangat fatal. Tuhan ingin agar jemaat di Efesus, dan seluruh jemaat di berbagai tempat, untuk kembali pada kasih yang semula. Dengan kasih ini, kita kembali fokus pada Kristus saja.

Dalam rangka memperingati HUT GKKK Malang ke 51, saya mengajak kita semua untuk memeriksa hati kita semua: bagaimana kasih yang semula di dalam diri kita masing-masing? Kiranya kita semakin bertumbuh di dalam kasih kepada Yesus Kristus, sang Kepala Gereja, yang telah mengasihi kita terlebih dahulu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here