Pdt. Mary Shi – Minggu, 08 Juli 2018

Kota Sardis adalah kota yang memiliki letak geografis yang memberikan banyak manfaat bagi penduduk di kota Sardis. Kota ini terletak di dataran Lembah Hermus dan dikelilingi oleh Gunung Tmolus yang tinggi dan terjal. Gunung Tmolus ini sepertinya menjadi benteng yang menjaga Kota Sardis dari serangan musuh. Selain itu, Sungai Pactolus yang mendapatkan aliran air dari Gunung Tmolus biasanya mengalirkan air yang disertai dengan endapan emas ke kota Sardis. Itulah sebabnya kota Sardis menjadi kota yang kaya raya, yang dapat membuat koin emas dan juga merupakan pusat perdagangan bulu domba. Di kota inilah hidup jemaat Sardis.

Wahyu 3:1-6 merupakan isi surat yang Yesus tujukan kepada jemaat di Sardis. Yesus terlebih dahulu memperkenalkan Diri-Nya sebagai pemilik dari ketujuh jemaat yang ada di Asia Kecil dan yang memiliki otoritas penuh untuk menilai apa yang dilakukan oleh jemaat-Nya. Setelah itu, Yesus berkata kepada jemaat Sardis: “Aku tahu segala pekerjaanmu; engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati.” Perkataan Yesus ini merupakan kecaman yang keras terhadap jemaat Sardis. Frase “Engkau dikatakan hidup,” di dalam bahasa aslinya memiliki pengertian: “Engkau memiliki nama (reputasi) yang hidup.” Dalam terjemahan NIV: “… you have a reputation of being alive, but you are dead.” Suatu pernyataan yang sangat menyedihkan dan mengerikan. Ini berarti, Yesus menyatakan bahwa jemaat Sardis memiliki nama/reputasi yang hidup di mata manusia, namun di mata Tuhan, mereka dinyatakan mati.

Mengapa Tuhan Yesus mengecam mereka dengan pernyataan yang demikian? Di ayat 2b kita menemukan jawabannya yakni: “… sebab tidak satupun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku.” Kata “sempurna” di sini berarti lengkap atau penuh. Dengan demikian makna dari “… sebab tidak satupun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku” ialah:

1. Pekerjaan mereka kekurangan elemen yang hakiki atau yang paling mendasar.
Yakni hubungan rohani dengan Tuhan. Jemaat Sardis dapat mengelabui mata manusia dengan menampilkan banyak aktivitas dan kegiatan pelayanan, yang menunjukkan bahwa jemaat ini punya reputasi yang luar biasa, namun Yesus yang menilai segala sesuatu yang mereka lakukan itu mati. Oleh karena mereka telah kehilangan hubungan secara rohani dengan Tuhan. Yang mereka lakukan ialah hal-hal yang rohani, namun ironisnya ialah mereka justru terlepas dari hubungan rohani dengan Tuhan. Bagaimanakah hubungan rohani kita dengan Tuhan selama ini? Apakah aktivitas gerejawi, misalnya datang ke gereja setiap minggu, terlibat dalam pelayanan, dan lain-lain, telah menggeser hubungan pribadi kita dengan Tuhan?

2. Apa yang mereka lakukan tidak menyenangkan hati Allah.
Leon Morris berkata: “This chuch may have pleased men, but it did not pleased God.” Keterhilangan hubungan dengan Tuhan menyebabkan mereka tidak lagi mencari apa yang menyenangkan hati Tuhan, sehingga aktivitas dan kegiatan rohani yang mereka lakukan pada akhirnya hanyalah untuk menyenangkan hati manusia saja. Apakah selama ini kita telah menjadi jemaat yang menyenangkan hati Tuhan?

3. Yesus mencari sesuatu dalam hidup iman Kristen kita.
Yesus mencari adanya “buah” yang dihasilkan di dalam kehidupan iman kita. “Buah” apakah yang telah kita hasilkan di dalam kehidupan iman kita?

Kristus yang mengetahui keadaan jemaat Sardis dan mengasihi jemaat ini, memberikan perintah agar mereka tidak terlena di dalam kondisi yang mati secara rohani. Yesus memberikan perintah kepada mereka, yakni:

1. Bangun dan kuatkanlah apa yang masih tinggal (ay. 2a)
Jemaat Sardis diminta untuk bangun dari keterlelapan rohaninya dan mengokohkan kembali sisa-sisa iman yang masih ada.

2. Ingat, turutilah, dan bertobatlah (ay.3a)
Mereka diminta untuk mengingat kembali kasih karunia Tuhan, kemudian menuruti semua perintah Tuhan, dan yang terakhir ialah harus memiliki hidup pertobatan yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Setelah itu, Yesus memberikan suatu penghargaan bagi mereka yang menang, yakni mereka yang mau bertobat, merajut kembali kehidupan rohani dengan Tuhan, dan tidak mencemarkan kehidupan iman mereka. Mereka akan diakui namanya di hadapan Allah dan di hadapan para malaikat-Nya. Ini merupakan pengharapan dan penghargaan yang terindah bagi semua jemaat Tuhan. Kiranya jemaat GKKK Malang yang memasuki usia 51 tahun ini bersama-sama belajar menjadi jemaat yang Tuhan Yesus katakan “tidak mencemarkan pakaian putihnya” dan “diakui namanya oleh Tuhan Yesus.” Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here