Pdt. Titus Liem22 Juli 2018

Tuhan memberikan diagnosa dan penilaian terhadap jemaat di Laodikia, dengan tujuan bukan untuk menjatuhkan atau menyudutkan tetapi memperingatkan mereka tentang keadaan mereka yang sesungguhnya. Dengan demikian, mereka kembali bertobat dan menikmati persekutuan dengan Tuhan.

Kondisi Kota Laodikia
Kota ini adalah kota yang kaya. Kota ini terkenal sebagai pusat perbankan, pengha- sil wol hitam untuk pakaian dan permadani, tanahnya subur menyebabkan banyak rumput untuk domba, dan ini menghasilkan wol, khususnya wol hitam yang bermutu tinggi. Kota ini pun mempunyai sekolah kedokteran, yang menghasilkan salep mata. Dengan keadaan seperti itu, mereka hidup dalam kenyamanan dan ketentraman. Bahkan dari sisi kehidupan berjemaat mereka tidak menghadapi ancaman dari orang-orang non Yahudi, para nabi palsu, bahkan mereka juga tidak mengalami penganiayaan dan penderitaan karena nama Tuhan. Keadaan mereka justru lebih baik dibanding dengan jemaat ditempat lain.

Pandangan Tuhan tentang Jemaat di Laodikia
Di balik segala “kesuksesan” kota dan gereja tersebut, Tuhan berkata: “Aku tahu segala pekerjaanmu…engkau tidak dingin dan tidak panas – engkau suam-suam kuku. Jadi karena engkau suam-suam kuku – tidak dingin atau tidak panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku”. Teguran keras terhadap jemaat di Laodikia adalah kesuaman mereka.

Keadaan Laodikia juga terjadi dalam gereja atau persekutuan kita sekarang ini. Jemaat tetap beribadah, saat teduh pribadi, melayani, ikut paduan suara, tetapi terjebak dalam kegiatan rohani yang tidak lagi memiliki dinamika rohani atau pengaruh. Ketika bernyanyi, nyanyian itu pun tidak dapat mengangkatkan hati jemaat kepada Allah. Namun demikian tetap merasa bahwa semua baik-baik saja padahal mereka sesungguhnya mengalami kemerosotan.

Tuhan Yesus, sebagai Kepala Raja Gereja, tidak memberikan satu pun kata-kata pujian ataupun penghargaan bagi jemaat ini. Sebaliknya, Tuhan memberikan kecaman yang paling keras. Reaksi Tuhan Yesus kepada mereka sangat mengagetkan: “Aku mau memuntahkan kamu”

Apa Yang Yang Menjadi Penyebab Keadaan Suam Ini? (Ayat 17)
1. Puas Diri
Perasaan “puas diri” membuat jemaat di Laodikia tidak memiliki kesungguhan hati dalam menyembah dan melayani Tuhan. Nama Tuhan memang masih disebut-sebut dan dipuja dalam kebaktian dan persekutuan, nama-Nya masih digunakan dalam doa-doa, tetapi otoritas-Nya tidak berlaku dalam segala aktivitas gerejawi lainnya, juga kehidupan pribadi, keluarga, pekerjaan, dan sebagainya.

Berdasarkan ayat 20, digambarkan bahwa Kristus ada di luar pintu dan mengetok dari luar gereja. Dalam Yohanes 15:1-8, Tuhan Yesus berkata Akulah Pokok anggur yang benar itu… Di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa…” Itu sebabnya perasaan “puas diri” di sini adalah sesuatu yang begitu berbahaya. Inilah suatu bentuk penipuan diri dengan menggantungkan hidup pada hal apa pun selain Tuhan.

2. Lupa Diri
Kesalahan lain Jemaat di Laodikia ada di ayat 17, “Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa.” Mereka merasa diri mereka hebat, padahal tidak demikian di mata Tuhan. Mereka merasa kaya, tapi Allah melihatnya melarat, miskin dan miskin; mereka merasa memakai pakaian wol yang indah, tapi Allah melihatnya telanjang; mereka merasa mereka memiliki obat salep mata yang manjur untuk sakit mata, tapi Allah melihat mereka buta. Sungguh ironis.

Orang yang berpuas diri, merasa diri layak, dan merasa diri rohani, gampang terjebak dalam kondisi seperti ini. Hal ini juga sering terjadi kepada kita. Jika kita merasa sudah cukup baik, sudah cukup memberi, sudah cukup berkorban untuk pelayanan, bisa membuat kita kurang bergantung kepada Allah dan akhirnya kasih kita kepada Allah menjadi suam-suam kuku dan kita lupa diri. Ini merupakan kondisi yang menyedihkan, dimana seseorang ada dalam kondisi rohani yang sangat buruk, tetapi ia sendiri tidak mengetahui dan menyadarinya.

Nasehat Tuhan
Dalam ayat 19 disebutkan bahwa Tuhan Yesus menegur dan menghajar orang yang dikasihi-Nya. Jemaat di Laodikia ditegur dengan keras oleh Tuhan karena Ia mengasihi mereka. Dalam ayat 18 dikatakan: ”maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.”

Ada satu perintah untuk “membeli” dari Tuhan Hal ini tidak berarti bahwa keselamatan dapat dibeli. “Mereka” berarti mereka harus datang kepada Kristus, dan menunjuk pada hati yang remuk/sedih/menyesal. Ada tiga hal yang ditawarkan Kristus: (1) emas yang sudah teruji agar mereka kaya (bukan materi namun rohani); (2) pakaian putih (kesucian) agar keterlanjangan mereka tertutup dan membuatnya layak berdiri dihadapan Tuhan; (3) minyak yang melumas, agar dioleskan ke mata dan mata mereka dicelikkan dan mereka bisa melihat kemiskinan rohaninya.

Tuhan benci dengan kesalehan atau kerohanian yang palsu atau berpura-pura. Berhentilah membangun image yang hanya sekedar menyenangkan orang. Tapi, bangunlah relasi rohani yang autentik dengan Allah. Milikilah relasi yang intim dengan Kristus. Semoga Tuhan menolong dan memberkati keluarga besar GKKK Malang yang telah berulang tahun ke 51, semakin dipakai dan diperkenan Tuhan. Amin!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here