Markus 9:2-8; Ringkasan Khotbah Ev. Esther G. Sulistio; Minggu, 20 Oktober 2019

Untuk memahami perikop ini, kita perlu melihat maksud penulisan Markus. Dalam paruh pertama, Markus menjelaskan siapakah Yesus itu, bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah. Pada paruh kedua (terakhir), Markus menjelaskan bagaimana Yesus mulai memaparkan misi-Nya di dunia, mengapa Ia berinkarnasi: bahwa Ia adalah Mesias yang kelak akan Menderita dan mati dan para pengikut-Nya harus rela memikul salib dan menderita karena injil. Di pertengahan (peralihan), Markus mencatat pengakuan Petrus tentang Yesus, yang menjadi titik peralihan dari paruh pertama ke paruh ke dua. Pada waktu Yesus bertanya: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini,” Petrus menjawab dengan satu pengakuan: “Engkau adalah Mesias” (Markus 8:29).

Setelah pengakuan Petrus tersebut, sebelum para murid diajak untuk bersiap sedia menderita, Markus mencatat peristiwa transfigurasi Yesus di atas gunung di hadapan ke 3 murid-Nya (Markus 9:2-8). Di atas gunung itu, wajah Yesus berubah, bercahaya seperti matahari (Mat. 17:2), pakaiannya menjadi sangat putih berkilat-kilat. Ada dua orang tokoh PL yakni Musa dan Elia muncul bersama Tuhan Yesus dan turun awan sebagai lambang hadirat Allah dan terdengar suara yang mengatakan bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” Makna transfigurasi Yesus bagi para murid yakni supaya mereka yakin bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah dan supaya mereka juga siap menderita karena Yesus adalah Mesias yang menderita:

1. Visi ini menekankan bahwa panggilan untuk siap menderita tersebut datang dari Tuhan.

Pesan ini adalah pesan yang diberikan oleh TUHAN, melalui visi ini Tuhan Yesus menyatakan kemuliaan-Nya yang Ia miliki sebagai Anak Allah sebelum dunia diciptakan dan kemuliaan yang akan Ia miliki kembali setelah kebangkitan-Nya. Yesus adalah ‘Anak Allah.’ Musa dan Elia nampak dalam visi tersebut menunjukkan:

  • Keduanya dinubuatkan dalam PL sebagai konfirmasi kedatangan Mesias:
    – Musa: Ul 18:15, 18. Janji Allah yang akan membangkitkan nabi pada akhir zaman spt Musa menunjuk kepada Yesus yang adalah Mesias.
    – Elia: Mal 3:1; 4:5-6. Kedatangan Mesias akan didahului oleh ‘Elia’ akhir zaman (Yohanes Pembaptis: Mat 17:10-13; 11:10-14; Luk 1:17).
  • Yesus melebihi Musa dan Elia:
    – Wajah Yesus bercahaya (Mat 17:2) seperti matahari bahkan sebelum Allah menyata
    kan-Nya sebagai Anak-Nya yang dikasihi. Musa dan Elia tidak.
    – Musa dan Elia menghilang di akhir visi tersebut, ini sebagai konfirmasi bahwa fokus (peran utama) dari visi ini adalah Yesus.

2. Visi ini mengonfirmasi betapa seriusnya Tuhan memanggil mereka untuk siap menderita demi Injil.

Bandingkan dengan Keluaran 33:18-23: ketika Musa di Gunung Sinai: ia meminta bukti penyertaan Allah atas Israel, ia memohon agar Allah memperlihatkan keberadaan-Nya: “Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku” (ay. 18; [Septuaginta: show me ‘the real You.’] Permintaan Musa ini tidak dikabulkan, malah Tuhan berkata: “Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup” (ay. 20). Tuhan menyuruh Musa berdiri di atas sebuah bukit batu yang berlekuk, lalu ketika Tuhan lewat di depannya, Musa harus menutup muka lalu tangan Tuhan melindungi Musa dari sinar yang begitu terang membutakan. Tuhan hanya memperlihatkan bagian belakang-Nya kepada Musa. Musa hanya diijinkan melihat refleksi dari kemuliaan Allah karena kalau melihat langsung ia akan mati.

Petrus, ketika sadar melihat dan merasakan hadirat Ilahi, ia begitu ketakutan sampai-sampai ia tidak sadar berbicara apa, namun Tuhan berkenan memperlihatkan kemuliaan-Nya kepada dirinya dan ke-2 murid yang lain. Kesediaan Tuhan memperlihatkan kemuliaan-Nya menunjukkan betapa seriusnya Tuhan memanggil mereka untuk siap menjadi murid yang kelak menderita demi Injil.

3. Visi ini mengonfirmasi bahwa penderitaan yang mereka akan alami hanyalah sementara, ada kemuliaan kelak yang tersedia bagi mereka.

Bagi para murid, transfigurasi ini berfungsi sebagai cuplikan atau preview dari kemuliaan Kristus setelah kebangkitan dan akan nyata pada waktu Ia datang kembali kedua kalinya. Penderitaan yang mereka akan alami adalah bersifat sementara, mereka harus tabah karena ada kemuliaan kelak yang tersedia bagi mereka.

Menyikapi kondisi politik dan keamanan Indonesia saat ini, para pemimpin gereja perlu terus mendorong jemaat untuk lebih tekun berdoa bagi bangsa ini. Di satu sisi, gereja perlu terus membimbing jemaat hidup dengan hikmat, menempatkan diri dengan baik dan tepat sebagai kaum minoritas serta berusaha memberi sumbangsih se-positif mungkin di tengah-tengah masyarakat. Namun demikian, gereja juga harus dengan serius mempersiapkan jemaat untuk ‘diperlakukan dengan berbeda,’ di tengah masyarakat siap memikul salib karena kita adalah murid Kristus. Kiranya makna dari transfigurasi Yesus ini akan menguatkan kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here